Bagaimana Cara Allah Menghisab Amal Manusia Di Akhirat Kelak?

Hafiziazmi.com – Tahukah Anda bagaimana cara Allah menghisab amal manusia di hari kiamat nanti? Dalam mengadili manusia di akhirat kelak, Allah membagi manusia menjadi 3 kelompok. Berikut penjelasannya.

Apa itu Akhirat?

Akhirat dalam bahasa Arab: اليوم الآخرة, (al-yaum al-ākhirah), dipakai untuk mengistilahkan kehidupan alam baka (kekal) setelah kematian atau sesudah dunia berakhir.

Akhirat merupakan salah satu dari rukun iman yaitu: Percaya Allah, percaya adanya malaikat, percaya akan kitab-kitab suci, adanya nabi dan rasul dan takdir.

Dalam Islam, Allah akan memainkan peranan, beratnya perbuatan masing-masing hamba-Nya. Allah akan memutuskan apakah orang tersebut di akhirat akan diletakkan di neraka (Jahannam) atau surga (Jannah). Kepercayaan ini telah disebut sebelumnya sebagai Hari Penghakiman dalam ajaran Islam.

3 Cara Allah Menghisab Amal Hambanya

Seperti yang sudah saya sebutkan diatas, bahwa Allah akan membagi 3 golongan untuk dihisab amalnya.

1. Golongan Tanpa Hisab

Pertama, kelompok yang tidak dihisab, tidak dimintai pertanggungjawaban, tidak ditanya apa-apa tapi langsung dimasukkan surga tanpa proses pertanggungjawaban dan Azab.

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda.

“Beberapa umat ditampakkan kepadaku, lalu kulihat seorang nabi bersama beberapa orang, ada seorang nabi bersama satu atau dua orang, dan ada seorang nabi yang tidak disertai siapapun.

Tiba-tiba ditampakkan kepadaku satu golongan dalam jumlah yang amat banyak, sehingga aku mengira mereka adalah umatku. Maka ada yang memberitahukan kepadaku, ‘Ini adalah Musa dan kaumnya.’ Aku melihat lagi, ternyata di sana ada jumlah yang lebih banyak lagi.

Ada yang memberitahukan kepadaku, ‘Itulah umatmu, 70000 orang di antara mereka masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.’ Kemudian beliau bangkit dan masuk rumah. Maka orang-orang berkumpul bersama orang-orang yang sudah berkumpul.

Sebagian mereka mengatakan, ‘Barangkali mereka adalah para sahabat Rasulullah shalAllohu ‘alaihi wa sallam.’ Sebagian yang lain mengatakan, ‘Boleh jadi mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak menyekutukan sesuatu pun beserta Allah.’ Mereka pun mengatakan banyak hal.

Lalu Rasulullah keluar menemui mereka dan mereka memberitahukan kepada beliau. Maka beliau bersabda, ‘Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak meminta untuk (berobat dengan cara) disundut dengan api, dan tidak melakukan tathayyur, serta mereka bertawakal kepada Allah.’ Lalu ‘Ukkasyah bin Mihshon berdiri dan berkata, ‘Berdo’alah kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk golongan mereka.’

Beliau bersabda, ‘Engkau termasuk golongan mereka.’ Kemudian ada orang lain berdiri dan berkata, ‘Berdo’alah kepada Alloh agar Dia menjadikan aku termasuk golongan mereka.’ Beliau bersabda, ‘Engkau sudah didahului ‘Ukasyah.’” (HR. Al Bukhori dan Muslim)

Baca juga: Golongan Orang Yang Diharamkan Masuk Neraka

Tidak meminta ruqyah, tidak berobat dengan cara disundut dengan besi panas dan tidak menganggap akan mengalami kesialan setelah mendengar atau melihat sesuatu merupakan wujud dan realisasi dari tawakal kepada Allah. Akan tetapi ada yang mengatakan bahwa kehormatan itu tidak secara otomatis menjadikan mereka sebagai kelompok terbaik.

Kenyataannya memang banyak orang yang lebih baik dari mereka namun tetap menjalani hisab, bahkan para nabi pun menjalani proses hisab.

2. Golongan di mudahkan dalam hisab

Kedua, kelompok orang yang diberi kemudahan. Mereka akan menjalani hisab, pertanggungjawaban dengan mudah, Al Quran menyebutnya dengan istilah Hisab Yasir.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman.

(8) فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ (7) فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا

“Adapun orang yang diberikan kitab nya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan hisab yang mudah.” (Al Quran surah Al Insyiqaq ayat 7-8)

Bagaimana cara Allah menghisab dengan mudah itu?

Cara Allah ini di jelaskan dengan detail oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam sabdanya.

“Sesungguhnya Allah akan mendekatkan seorang hamba Mukmin kemudian menempatkannya di sisi-Nya. Allah menutupi (dari para hamba yang lain) kemudian bertanya ‘apakah kamu mengetahui dosa ini?’ Hamba tersebut menjawab, ‘Benar Wahai Tuhanku.’ Sampai Allah menjadikan hamba tersebut mengakui dosa-dosanya dan ia yakin bahwa dirinya akan binasa lalu Dia berfirman, ‘Aku telah menutupinya tatkala kamu hidup di dunia dan Aku akan mengampuninya pada hari ini untuk kebaikanmu.’ Kemudian dia diberi kitab catatan amal kebaikan.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Baca juga: Timbangan Amal Kebaikan Sama Dengan Keburukan, Bagaimana Nasibnya?

3. Golongan dipersulit hisabnya

Ketiga, kelompok orang-orang yang dipersulit dalam menjalani hisab dan pertanggungjawaban dihadapan Allah. Artinya, orang itu akan ditanyakan satu demi satu secara terperinci dan dipersulit.

Maka jika seseorang mengalami proses yang berbelit-belit dalam mempertanggungjawabkan amal perbuatan di akhirat nanti, itu tandanya dia akan celaka.

Rasulullah bersabda.

“Tidak ada seorangpun yang dihisab secara rinci dan detail nanti pada hari kiamat melainkan akan binasa.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

“Seorang hamba didatangkan pada hari kiamat, lalu ditanya oleh Allah swt. ‘Bukankah aku telah memberimu pendengaran, penglihatan, harta dan anak. Bukankah aku telah menundukkan hewan dan ladang serta memberi kesempatan untuk menjadi pemimpin dan dipatuhi banyak orang? Apakah kamu mengira bahwa kamu akan bertemu denganku pada hari ini?’ Orang tersebut menjawab, “tidak”. Allah berfirman, ‘pada hari ini aku melupakanmu sebagaimana kamu dulu telah melupakanku.’” (Hadits riwayat Tirmidzi)

Dalam sabda lain yang diriwayatkan oleh imam muslim melalui Abu Hurairah juga disebutkan bahwa Allah mengajukan pertanyaan yang hampir sama dengan yang disebutkan pada hadits lain kepada 3 orang.

Ketiga orang itu menjawab demikian, “Tuhanku, aku beriman kepadamu kepada kitab mu dan kepada utusan-utusanmu, aku juga mengerjakan shalat, puasa dan sedekah. Demikian dia terus memuji-muji kebaikan yang bisa dilakukannya.

Tetapi Allah segera berfirman, cukup Kami akan mendatangkan saksi Kami atas amalan-amalan itu. Orang tersebut berpikir siapa gerangan yang akan bersaksi untuknya itu?

Seketika itu juga mulutnya dikunci lalu dikatakan kepada dagingnya dan tulangnya “Berbicaralah” maka semua organ tubuh itu pun berbicara menceritakan amal-amalnya sehingga tidak ada alasan lagi baginya. Orang itu adalah orang munafik yang dimurkai Allah.

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (Al Quran surah Yaasin ayat 65)

Bukan hanya perbuatan dosa yang akan diminta pertanggungjawaban tetapi juga nikmat-nikmat yang diperoleh. Ini secara tegas dinyatakan oleh Allah dalam Firman-Nya.

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Kemudian, pasti kamu akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan yang kamu peroleh di dunia itu.” (Al-quran surah at-takasur ayat 8)

Harta melimpah, kepintaran, kesejukan air, sesuap nasi dan semua kesejahteraan yang pernah dinikmati akan dipertanyakan perolehan, penggunaan dan pemanfaatannya.

Apakah artikel ini bermanfaat?

Berikan nilai Anda

Nilai: / 5. Jumlah vote:

Hanya orang biasa yang mencoba untuk menyebarkan ilmu Agama Islam sesuai sumber terpercaya yaitu Al-Quran dan Hadis.

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.