Pengertian Husnuzan, Hukum, Contoh, dan Hikmahnya

Hafiziazmi.com – Husnuzon merupakan perlawanan dari suuzon. Mari kita pelajari lebih dalam mengenai pengertian husnuzan, hukum, kewajiban bersikap, bentuk atau contoh dan hikmahnya.

Islam merupakan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Ajaran islam ajaran yang empurna dan menyeluruh. Kitab dan sunah telah mengatur berbagai permasalahan yang berhubungan dengan manusia, baik itu akidah, akhlak, muamalah, syariah, dan lainya.

Pengertian Husnuzan
Pengertian Husnuzan, sumber: Pixabay.com

Dengan demikian, manusia hendaknya mengembalikan semua persoalan kepada-Nya, termasuk didalamnya cara-cara bersikap dan bertingkah laku yang baik. Didalam bermuamalah dengan sesame, kita harus mengedepankan akhlak terpuji, seperti husnuzon, tawadhu, tasamuh, dan taawun.

Dalam suatu hadist, Rasulullah juga menekankan untuk membiasakan diri dengan akhlak terpuji karena merupakan sesuatu yang terberat dalam timbangan amal di akhirat.

Pengertian Husnuzan

Kata huznuzan berasal dari husnu (baik) dan zan (prasangka). Dengan demikian, husnuzan artinya prasangka, perkiraan atau dugaan baik.

Prasangka diartikan sebagai anggapan kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui (menyaksikan dan menyelidiki) sendiri. Tetapi kata ini tidak selalu berkonotasi negarif, karena dapat juga bermakna positif.

Prasangka yang baik disebut juga huznuzan dan prasangka yang buruk disebut suuzan. Setiap pribadi muslim wajib sifat prasangka baik dan wajib menghindari prasangka buruk.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surah al-Hujurat ayat 12.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Al Quran surah Al-Hujurat ayat 12)

Amirul Mukminin Umar bin Khattab berkata,

“Janganlah engkau  berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan prasangka yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataanya itu kepada prasangka-prasangka yang baik.”

Ibnu Katsir menyebutkan perkataan Umar diatas ketika menafsirkan sebuah ayat dalam surah Al-Hujurat.

Abu Hatim bin Hibban al-Busti dalam kitab Raudhah al ‘Uqala mengungkapkan,

“Tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan.”

Orang yang selalu husnuzan pikirannya akan tenang, hatinya merasa nyaman karena tidak dihantui rasa curiga, cemas dan gelisah. Dalam ilmu psikologis manusia, sifat huznuzan dikenal dengan istilah positive thinking.

Berfikir positif memiliki efek yang luar biasa dalam kehidupan. Orang yang selalu berfikir positif akan menjalani hidup dengan penuh semangat, ceria dan optimis menyongsong masa depan.

Baca juga: Materi Puasa

Hukum Husnuzan

Hukum huznuzan kepada Allah dan rasul-Nya adalah wajib. Artinya setiap muslimin dan muslimat wajib memiliki sifat ini. Sikap husnuzan tidak hanya diharuskan dalam hubungan sesame manusia, tetapi kita harus mempunyai prasangka baik kepada sang pencipta, yaitu Allah Subahanahu Wa Ta’ala.

Kita harus yakin bahwa Allah menciptakan manusia dengan berbeda-beda, ada maksud dan hikmah di balik kejadian itu. Serta memberikan apa yang selalu diperlukan oleh manusia dalam hidupnya.

Wujud prasangka baik kepada Allah dan rasul-Nya antara lain sebagai berikut.

  • Meyakini dengan sepenuh hati bahwa semua perintah Allah dan rasul-Nya adalah untuk kebaikan manusa sendiri.
  • Meyakini dengan sepenuh hati bahwa semua larangan agama pasti berakibat buruk jika dilaranggar.

Adapun hukum huznuzan kepada manusia adalah mubah atau jaiz (boleh dilakukan). Prasangka baik terhadap sesama manusia berarti menaruh kepercayaan atau mengira bahwa dia telah berbuat suatu kebaikan.

Oleh sebab itu, sikap ini berdampak positif, baik bagi pelakunya sendiri maupun pihak laib. Sebaliknya, su’uzan berarti menaruh kecurigaan kepada pihak lain.

Kewajiban Bersikap Hunuzan

Islam mendidik umatnya agar bersikap hati-hati terhadap zan (prasangka). Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Hujurat ayat 12.

Ayat tersebut tegas mewajibkan kita untuk bersikap hati-hati dalam zan (prasangka). Adapun prasangka yang tergolong perbuatan dosa ialah prasangka buruk. Berprasangka buruk berarti mencurigai orang lain telah berbuat yang tidak baik, padahal ia belum tentu benar.

Orang yang mencurigai seseorang (telah berbuat buruk) pasti bersikap kurang bersahabat dengan orang yang dicurigai. Dengan demikian, hubungan persaudaraan dia dengan orang yang dicurigai menjadi jauh.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda.

إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” (Hadist riwayat Bukhari no.6064)

Bentuk-bentuk Husnuzan

Orang yang mengaku Bergama islam wajib melaksanakan ajaran islam dalam perilaku kehidupannya sehari-hari. Jika tidak demikian, tidaklah berarti keislaman orang tersebut. Adapun perilaku yang mencerminkan sikap husnuzan, antara lain sebagai berikut.

  1. Menuakini dengan sepenuh hati bahwa semua perintah agama untuk kebaikan manusia sendiri jika ditaati.
  2. Meyakini bahwa semua larangan agama demi kebaikan manusia.
  3. Mengembangkan sikap baik dalam kehidupan bertetangga dan bermasyarakat.
  4. Memberi kepercayaan kepada sesame manusia tentang suatu urusan dengan kepercayaan bahwa ia dapat melaksanakan tugasnya.
  5. Menjauhi prasangka buruk terhadap siapa pun apabila tidak ada bukti nyata.

Baca juga: Materi Kurban Lengkap

Hikmah Berbuat Husnuzan

  • Senantiasa mensyukuri segala sesuatu yang diberikan Allah
  • Bersikap takut dan berharap kepada Allah.
  • Optimis dan tidak berkeluh kesah serta berputus asa.
  • Akal pikiran menjadi jernih dan terjauhkan dari akan pikiran kotor.
  • Dicintai dan disayangi Allah dan Rasul-Nya serta orang lain.
  • Terjauh dari permusuhan dan lebih dapat mempererat silahturahmi.
  • Terjauhkan dari hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.

Itulah pembahasan materi pengertian husnuzan, semoga bermanfaat bagi kalian.

Berikan Nilai Anda

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.