Haruskah Saling Bermaafan Menjelang Ramadhan?

Bulan Ramadhan yang kita tunggu-tunggu semakin dekat kedatangannya. Berbagai daerah di tanah air memiliki tradisi masing-masing dalam menyambut bulan suci ini. Di antara yang paling banyak dilakukan adalah tradisi saling bermaafan menjelang Ramadhan.

Caranya pun beragam, ada yang bermaafan dengan saling berkunjung dan bersilaturahim, ada juga yang menyebarkan kalimat kalimat permintaan maaf melalui berbagai media komunikasi. Para pengguna media sosial pun ramai memasang status ucapan permohonan maaf.

Bermaafan menjelang ramadhan
Bermaafan sebelum ramadhan, sumber: Unsplash.com

Bahkan banyak beredar di media sosial tentang hadis yang mengharuskan kita bermaafan sebelum bulan Ramadhan. Disebutkan ketika Rasulullah sedang berkhutbah pada sholat Jumat dalam bulan Sya’ban, beliau mengatakan amin sampai tiga kali dan para sahabat terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan amin.

Tapi para sahabat bingung kenapa Rasulullah berkata amin sampai tiga kali. Ketika selesai sholat Jumat para sahabat bertanya kepada Rasulullah. Kemudian beliau menjelaskan; ketika aku sedang berkhutbah datanglah Malaikat Jibril dan berbisik “ Hai Rasulullah aminkan doa-ku ini”

Doa Malaikat Jibril itu adalah “Ya Allah, tolong abaikan puasa umat Muhammad apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya,  tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri, tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.

Jika ditelusuri lebih jauh, ternyata ada yang menyebutkan hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ahmad. Tetapi jika ditelusuri di dalam kitab-kitab hadits tidak ditemukan hadits dengan redaksi seperti ini.

Baca juga: Amalan di bulan Ramadhan

Apakah wajib minta maaf sebelum Ramadhan?

Dari sini bisa dipahami sebenarnya bermaafan menjelang ramadhan itu tidak ada dasarnya. Namun begitu, meminta maaf adalah perbuatan yang sangat dianjurkan, tapi tidak terikat waktu sebelum ramadhan saja, melainkan dilakukan kapan saja.

Ketika melakukan kesalahan dan itulah kita diperintahkan meminta maaf dan tidak menunggu hingga datangnya bulan ramadan, begitupun memaafkan kesalahan orang lain. Karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan agar menjadi orang yang pemaaf dalam Firman-Nya.

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadi engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang bodoh.” (Al-Quran surah Al-A’raf ayat 199)

Begitupun dalam Firman-Nya.

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah. Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang.” (Al Quran surah An Nur ayat 22)

Muncul kebiasaan saling bermaafan menjelang ramadhan, barangkali karena bulan ramadan adalah bulan pencucian dosa. Sebagaimana dituturkan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam pernah bersabda.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).

Jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala sudah menjanjikan pengampunan dosa, maka tinggal memikirkan bagaimana meminta maaf kepada sesama manusia.

Karena dosa yang bersifat langsung kepada Allah pasti diampuni sesuai janji Allah Subhanahu Wa Ta’ala, namun dosa dan kesalahan yang dilakukan kepada manusia hanya bisa ditebus dengan permintaan maaf dan ridho darinya, sesuai Sabda Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam.

من كانت له مظلمة لأخيه من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه

“Siapa yang berbuat zalim kepada saudaranya, baik berupa kehormatan badan, harta atau lainnya, hendaknya segera meminta halal maafnya sekarang juga sebelum datang hari dimana tiada dinar maupun dirham. Jika dia punya amal shalih, maka akan diambil darinya keukuran kezalimannya. Dan jika tidak mempunyai amal kebaikan, maka akan diambilkan kesalahan orang yang dia zalimi untuk ditimpakan kepadanya.” (Hadits Riwayat Bukhari)

Baca juga: Dosa yang langsung dibalas

Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika masyarakat memanfaatkan momen menjelang Ramadhan ini untuk meminta maaf dan memaafkan. Dengan catatan, tidak menjadikan waktu ini sebagai waktu khusus untuk meminta maaf hingga mengundur-undur waktu untuk meminta maaf atas kesalahan kesalahan yang pernah dilakukan.

Idealnya yang seharusnya dilakukan bukan sekedar basa-basi minta maaf atau memaafkan, tetapi juga menyelesaikan semua urusan seperti hutang-piutang dan sangkut-paut dengan sesama agar ketika memasuki ramadhan kita sudah bersih dari segala sangkutan kepada sesama manusia.

Hanya orang biasa yang mencoba untuk menyebarkan ilmu Agama Islam sesuai sumber terpercaya yaitu Al-Quran dan Hadis.

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.